hit counters
hit counter
Anak-anak yang diberikan steroid dexamethasone setelah tonsilektomi hanya mengalami mual dan muntah ringan, namun mereka justru menghadapi peningkatan risiko perdarahan yang cukup signifikan hingga studi dihentikan lebih dini karena faktor safety. Demikian hasil sebuah studi yang dipublikasikan di Journal of the American Medical Association Desember lalu.Dalam hasil studi yang dikepalai oleh Dr. Martin R. Tramer dari Geneva University Hospitals di Switzerland, disebutkan bahwa pasien yang mendapat dexamethasone dosis tertinggi memiliki tujuh kali lipat risiko perdarahan. Namun penulis studi dan ahli lain menambahkan bahwa hasil penelitian masih merupakan simpulan permulaan. Temuan tersebut juga berseberangan dengan berbagai pengalaman praktek ahli medis di Amerika. “Saya telah berpraktrek selama 20 tahun, dan melakukan sekitar 500 hingga 1.000 tonsilektomi setiap tahunnya. Saya memberikan sekitar 0.4 mg/kg (dexamethasone) dan beberapa kolega saya juga melakukan hal yang sama, namun saya tidak menemukan perdarahan tersebut,” kata Dr. Ramzi Younis, Kepala pediatric otolaryngology di University of Miami School of Medicine. Dr. Dean Kurth, Direktur anestesi di Cincinnati Children’s Hospital mengatakan bahwa hasil tersebut terlalu prematur untuk dapat mengubah praktik mereka, seraya menambahkan bahwa praktik pengobatan berbeda antara Eropa dan Amerika.

Latar belakang studi memaparkan, bahwa hampir 190 ribu tonsilektomi dilakukan pada anak-anak di Amerika setiap tahunnya. Mereka umumnya mengalami postoperative nausea and vomiting (PONV) di samping rasa nyeri dan perdarahan setelah dilakukannya prosedur tesebut, yang kerap terjadi pada pasien yang tidak menjalani perawatan di rumah sakit. Non-steroidal anti-inflammatory drugs (NSAIDS) telah digunakan untuk meringankan nyeri, namun meningkatkan perdarahan. Dexamethasone, digunakan sebagai standar terapi di beberapa institusi.

Pada penelitian tersebut, sebanyak 215 anak-anak yang menjalani tonsilektomi di rumah sakit pendidikan di Swiss secara acak menerima dexamethasone sebesar 0,05 mg/kg, 0,15 mg/kg, 0,5 mg/kg, atau placebo. Mereka juga diberikan acetaminophen-codeine dan ibuprofen (sebuah NSAID) untuk menghilangkan nyeri setelah operasi, dan diamati selama 10 hari. Hasilnya, semakin tinggi dosis dexamethasone, semakin sedikit nausea dan vomit yang dialami pasien. Anak-anak yang menerima steroid juga lebih sedikit membutuhkan ibuprofen.

Setelah 24 jam, 44 persen mereka yang mengonsumsi placebo mengalami nausea dan vomiting postoperative, dibandingkan dengan 38 persen mereka yang menerima 0,05 mg dexamethasone, 24 persen yang menerima 0,15 mg dan 12 persen yang menerima 0,5 mg per kg berat badan. Namun sebanyak 4 persen anak-anak pada kelompok placebo dan 0,15 mg/kg dexamethasone mengalami perdarahan postoperative, dibandingkan dengan 11 persen mereka yang menerima dosis terendah dan 24 persen yang menerima dosis tertinggi. Setengah dari mereka yang mengalami perdarahan malah membutuhkan tindakan operasi lebih lanjut.

Angka perdarahan 4 persen mirip dengan di Amerika, ujar Kurth dan sekitar 10 persen kasus tersebut memerlukan operasi lanjutan. Juga, kata Younis, berbeda dengan peneliti Eropa pada penelitian ini, dia dan koleganya menasehati orang tua di Amerika agar tidak memberikan NSAIDs pada pasien, karena dapat menyebabkan perdarahan.

Satu yang masih menjadi teka-teki adalah temuan bahwa dosis dexamethasone yang lebih rendah dan lebih tinggi memiliki efek perdarahan yang lebih besar dibanding dosis sedang. Hipotesa yang dikeluarkan tim Tramer adalah risiko perdarahan dengan pemberian dexamethasone terkait dengan gangguan penyembuhan luka. Menurut Tramer, terdapat basis biologi untuk mendukung hal tersebut. Namun, Kurth berpendapat, hingga berbagai pertanyaan dapat terjawab dalam studi selanjutnya, jika ia adalah orang tua pasien, ia akan mencari tahu berapa tingkat perdarahan di institusi kesehatan yang akan melakukan terapi tersebut.


Seperti tercetak di Majalah Farmacia Edisi Januari 2009 , Halaman: 12

Leave a Reply