Archive for January, 2009
Kulit adalah organ tubuh yang terletak paling luar dan membatasi tubuh dari lingkungan sekitar manusia. Luas kulit orang dewasa 1.5m2 seberat 15% berat badan orang dewasa. Kulit merupakan organ yang esensial dan vital serta merupakan cermin kesehatan dan kehidupan. Selain itu, kulit juga sangat kompleks, elastis dan sensitif serta bervariasi sesuai iklim, umur, seks, ras dan lokasi tubuh.
Kulit dapat dengan mudah dilihat, diraba, dan menjamin kelangsungan hidup. Kulit pun menyokong penampilan seseorang. Dengan demikian kulit manusia mempunyai peranan yang sangat penting, selain fungsi utama yang menjamin kelangsungan hidup juga mempunyai arti lain yaitu estetik, ras, indikator sistemik, dan sarana komunikasi non verbal antara individu satu dengan yang lain. Polusi udara, asap rokok, makanan tinggi karbohidrat dan kalori, sauna, steam, kurang gizi, stres, kurang tidur, kotoran, debu, asap yang mengandung karbon, sinar ultraviolet dari matahari, berjemur, adalah sebagian dari banyak faktor lainnya yang dapat menyebabkan kerusakan pada kulit. Hal ini karena factor di atas membuat terjadinya penuaan kulit bahkan rangsangan sinar ultraviolet yang terus-menerus, yang tidak hanya akan membuat kulit rusak, tapi juga berisiko menimbulkan kanker kulit. Menurut dr.Aryani Sudharmono,Sp.KK(K) dari Senopati Skin
Center menggunakan pelembap terlalu banyak atau sering, memakai
bedak padat atau foundation (dasar bedak) terlalu lama dapat merusak kulit. Karena dari hasil penelitian, pemakaian pelembap, bedak padat, atau dasar bedak yang terlalu lama dan
sering bisa menyebabkan penuaan dini. Demikian juga dengan penggunaan pembersih berkadar alkohol tinggi. Oleh karena itu kesehatan kulit harus selalu diperhatikan. Untuk mendapatkan kulit yang sehat ada 3 langkah utama yaitu pengaturan pola makan, olah raga dan perawatan kulit. Ciri kulit sehat yaitu kulit terasa lembut, kencang, dan warnanya merata. Akan tetapi seringkali timbul penuaan kulit (skin aging) yang ditandai dengan kulit yang kasar, timbul kerut-kerut, warna kulit tidak merata dan timbul flek-flek. Tanda-tanda terjadinya penuaan pada kulit sudah dapat terlihat pada usia 30 tahun, biasanya muncul bercak penuaan, kemerahan, pelebaran pori-pori, kerutan halus, kulit kurang cerah dan terjadi perubahan warna kulit. Sedangkan pada usia 40-an, jumlah kolagen penunjang mulai berkurang sehingga muncul garis-garis yang lebih jelas pada wajah, kerutan kulit lebih jelas dan kulit lebih kering. Pada usia 50-an ke atas kulit manusia pun akhirnya akan tampak semakin berkeriput, karena produksi sel baru menurun pesat dan kulit kurang mampu menahan kandungan airnya. Disamping itu, sering juga dijumpai kulit wajah terlihat kendur dan berkerut. Hal ini disebabkan karena adanya penyusutan sel lemak bawah kulit, pada orang tua tampak kulit menjadi kendur dan menggantung, kantong mata membesar dan kulit di bagian bawah leher kendur seperti leher ayam. Akibat penuaan itu kulit semakin tipis sehingga kehilangan elastisitasnya. Sering pula muncul tumor-tumor jinak, pembuluh darah kapiler melebar (teleangiektasia) dan kemerahan yang menyebar di leher dan wajah, serta jaringan parut pasca jerawat. Untuk itu diperlukan peremajaan kulit, yaitu suatu mekanisme untuk mendapatkan kulit yang sehat. Secara medis, peremajaan kulit atau skin-rejuvenation didefinisikan sebagai prosedur untuk menghilangkan atau mengurangi tanda penuaan kulit. Sebenarnya banyak upaya peremajaan kulit sudah dilakukan manusia ribuan tahun lalu. Mulai dari kosmetik tradisional, seperti dengan susu fermentasi, balur dengan lumpur, masker, asam buah, ekstrak sayuran dan sebagainya, hingga kosmetik modern. Beberapa prosedur peremajaan kulit:
- Obat topikal
Obat yang dioleskan di kulit wajah berupa krim atau lotion, biasanya mengandung asam retinoat, asam alfa hidroksi (AHA), hidrokuinon serta tabir surya. Namun, hidrokuinon saat ini sudah dilarang karena efek sampingnya yang berbahaya.
- Peeling kimia
Peeling adalah prosedur pengelupasan kulit superfisial dengan cara mengoleskan larutan asam pada waktu tertentu dengan konsentrasi tertentu yaitu asam glikolat 20%-70% atau asam trikloro asetat 10-30% dilakukan secara berkala. Peeling boleh dilakukan untuk orang dewasa usia diatas 17 tahun, tetapi bagi wanita yang sedang hamil sebaiknya ditunda sampai bayi lahir. Hal tersebut untuk menghindari terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan. Peeling tidak hanya meremajakan kulit wajah, tetapi juga memberikan kesegaran dan menipisnya kerut-kerut halus. Bahkan jerawat pada tahap tertentu juga akan sembuh. Untuk pemakaiannya, wajah dibersihkan dengan pembersih kulit seperti biasanya. Lalu barulah krim peeling ini dioleskan merata pada wajah. Krim ini dibiarkan sekitar 1-2 jam, kemudian dicuci bersih dari wajah. Malam berikutnya diberikan lagi dengan ditambah waktunya beberapa jam. Sesudah pemakaian peeling, biasanya kulit harus dilindungi dengan krim tabir surya dan sebaiknya tidak terkena cahaya matahari langsung selama beberapa waktu. Hal ini untuk mencegah kulit menjadi terbakar oleh sinar matahari karena kondisi kulit masih tipis.
- Mikro dermabrasi
Mikro dermabrasi adalah teknik mengamplas permukaan kulit dengan butir kristal. Alat yang digunakan berupa selang berisi butir kristal, ditiup dengan tekanan tertentu. Dilakukan secara berkala.
- Laser ablatif dan non-ablatif
Alat laser ada dua macam, yakni ablatif dan non-ablatif. Pada tahun 1996 alat yang digunakan adalah laser skin resurfacing yang bersifat
ablatif. Laser ablatif menggunakan laser dengan panjang gelombang tertentu, misalnya 532 nm, 1064 nm atau laser CO2 digunakan untuk pigmentasi dan tumor jinak kulit dan harus dilakukan persiapan sebelum tindakan. Kebanyakan pasien dengan laser ablatif merasakan sakit karena kulit sering terluka juga dibutuhkan waktu beberapa minggu untuk sembuh dan sering timbul efek samping. Selain itu dengan laser ablatiif permukaan kulit cepat rusak dan mempercepat terjadinya hiperpigmentasi. Sedangkan laser non-ablatif adalah teknologi terkini dan baru diperkenalkan awal 2001, kemudian mulai diaplikasikan tahun 2002. Pada saat itu kalangan dokter laser sendiri masih meraba-raba parameter atau dosis yang cocok untuk kulit orang Asia (kulit berwarna). Sebab dosis untuk kulit orang Barat tidak cocok untuk orang Asia. Sejak 2002 dibuktikan dengan pendinginan kulit yang adekuat, efek peremajaan kulit (non-ablatif) lewat laser dan sinar lainnya dapat memberi hasil lebih baik. Efek samping dan komplikasi pun lebih kecil. Laser non-ablatif tidak melukai kulit wajah. Fungsinya untuk menyehatkan kulit, merangsang pertumbuhan kelenjar kolagen, dan melancarkan peredaran darah. Waktu pengerjaannya sekitar 30-60 menit, dilakukan di sela aktivitas misalnya saat jam makan dan dilakukan secara berkala yaitu setiap bulan atau 3-6 bulan sekali. Laser sendiri memiliki efek samping, apalagi bila penggunaannya tidak tepat atau dilakukan oleh yang bukan ahlinya. Secara teori, laser akan memberikan energi panas untuk menghancurkan kelainan pada kulit. Kalau ukurannya tidak tepat atau bukan dokter laser yang mengerjakannya maka kulit pasien bisa terbakar, gosong dan kering.
- Filler atau augmentasi
Adalah suatu prosedur untuk mengurangi, memperbaiki, dan menghilangkan kerut di wajah karena rusak atau kurangnya jaringan kolagen dan lapisan pendukung di bawah kulit. Untuk filler dapat digunakan antara lain lemak tubuh sendiri (self donated body fat), kolagen, asam hialuronat, poliakrilamid, dan poli-methacrylate.
- Botox
Botox adalah prosedur untuk mengurangi atau menghilangkan kerut akibat kontraksi otot ekspresi wajah. Caranya dengan menyuntikan larutan botox. Tujuannya untuk membuat otot ekspresif wajah penyebab kerut menjadi rileks. Efeknya bertahan selama 4-5 bulan.
- Hermage, yaitu face lift (tarik wajah) tanpa operasi
Adalah solusi yang tepat untuk pengencangan kulit wajah tanpa pembedahan agar kulit senantiasa lebih kencang sekaligus memperbaiki kontur wajah. Dilakukan 1 kali dan dapat bertahan selama 1 tahun.
http://www.tanyadokteranda.com/artikel/2009/01/cara-meremajakan-kulit
No Comments »
Pernahkah Anda merasa mengapa Anda begitu mudah lelah?, bisa jadi bukan kegiatan Anda yang terlalu berat dan membebani Anda tapi justru Andalah yang tidak bisa mengatur kondisi diri Anda sendiri.
Cobalah untuk mengatur diri Anda, mulai dari pola makan hingga tidur Anda agar lebih tertata dan membuat Anda tidak mudah lelah meskipun dengan kegiatan sehari penuh.
| - |
Atur pola makan Anda. Kebiasaan makan memainkan peran penting sebaik apa tubuh kita berfungsi pada setiap tingkatan
|
| - |
Sarapan. Penelitian menunjukkan seseorang yang sarapan akan merasa lebih baik, baik secara mental dan fisik daripada yang tidak sarapan
|
| - |
Makan setiap tiga sampai empat jam sekali. Dengan memakan tiga makanan dengan jumlah sedikit dan dua camilan sepanjang hari dapat menjaga kadar gula darah dan tingkat energi untuk tetap stabil sepanjang hari
|
| - |
Makanlah lebih banyak serat. Serat akan masuk ke dalam aliran darah Anda dengan lambat dan tenang, sehingga akan membuat energi Anda tetap terjaga
|
| - |
Berikan asupan omega-3 untuk otak Anda
|
| - |
Banyak minum. Air dapat meningkatkan fungsi utama darah dan cairan tubuh lainnya, dan bahkan dehidrasi ringan dapat menyebabkan darah mengental, membuat jantung memompa lebih keras sehingga menyebabkan kelelahan.
|
| - |
Jagalah asupan kafein setelah sore hari. Jika asupan kafein terlalu banyak atau diminum pada sore atau malam hari, maka kualitas tidur Anda akan terganggu.
|
| - |
Basuh muka Anda dengan air atau mandilah ketika Anda merasa stress
|
| - |
Berpakaianlah dengan pakaian yang bagus dan baik, agar image Anda tetap terjaga.
|
| - |
Sangat membantu dengan berpakaian yang bagus dan berkaca, akan membuat perasaan Anda lebih baik.
|
| - |
Buanglah kecemasan dan ketakutan Anda. Semakin Anda menyimpan kecemasan, maka semakin sulit untuk hidup tenang.
|
| - |
Dengarkan musik. Mendengarkan musik merupakan salah satu cara yang paling efektif untuk merubah bad mood, menurunkan tensi dan menambah energi.
|
| - |
Buanglah iri hati dan dendam. Iri hati dan dendam akan berpengaruh pada pikiran dan tubuh Anda dan meningkatkan kecepatan jantung dan tekanan darah sehingga menyebabkan melemahnya sistem kekebalan tubuh dan kelelahan
|
| - |
Ambilah nafas panjang. Konon, dengan banyak mengambil napas panjang saat menghadapi persoalan, dapat melancarkan peredaran darah dan membantu kita berpikir jernih.
|
| - |
Lakukanlah sesuatu yang baik. Apapun hasilnya, yang penting Anda sudah berusaha dan selalu berpikir positif.
|
| - |
Tidur atau beristirahatlah walaupun pekerjaan Anda banyak. Memberikan kesempatan tubuh Anda beristirahat, sambil mengumpulkan energi untuk menyelesaikan pekerjaan yang tersisisa.
|
| - |
Kurangi nonton tv dan komputer setelah pukul 8 malam. Makin lama Anda terpapar cahaya, maka kadar melatonin dalam otak Anda yang berfungsi merangsang Anda untuk tidur semakin berkurang. Karena melatonin diproduksi pada saat cahaya gelap.
|
| - |
Sembunyikanlah jam alarm Anda. Dengan melihat jam alarm Anda dan menghitung berapa lama waktu yang telah Anda habiskan untuk tidur akan membuat tidur malam Anda akan berkurang. Otak akan terjaga dan waspada dan mencegah Anda tidur terlalu lama
|
| - |
Tempatkan hewan piaraan Anda ketika malam di tempat lain. Kebiasaan piaraan Anda, seperti mendengkur, sering berkeliaran, akan mengganggu tidur Anda.
|
| - |
Kecilkan pemanas ruangan Anda ketika tidur. Untuk tidur malam yang baik, pastikan kamar Anda cukup dingin sehingga Anda akan memerlukan selimut tipis.
|
| - |
Hindari alkohol sebelum tidur.
|
| - |
Berolahragalah. Walaupun belum diketahui sebabnya, olahraga dapat membuat Anda tidur lebih cepat.
|
Penulis : Purwanti
http://www.litbang.depkes.go.id/aktual/kliping/lelah231008.htm
No Comments »
Anak-anak yang diberikan steroid dexamethasone setelah tonsilektomi hanya mengalami mual dan muntah ringan, namun mereka justru menghadapi peningkatan risiko perdarahan yang cukup signifikan hingga studi dihentikan lebih dini karena faktor safety. Demikian hasil sebuah studi yang dipublikasikan di Journal of the American Medical Association Desember lalu.Dalam hasil studi yang dikepalai oleh Dr. Martin R. Tramer dari Geneva University Hospitals di Switzerland, disebutkan bahwa pasien yang mendapat dexamethasone dosis tertinggi memiliki tujuh kali lipat risiko perdarahan. Namun penulis studi dan ahli lain menambahkan bahwa hasil penelitian masih merupakan simpulan permulaan. Temuan tersebut juga berseberangan dengan berbagai pengalaman praktek ahli medis di Amerika. “Saya telah berpraktrek selama 20 tahun, dan melakukan sekitar 500 hingga 1.000 tonsilektomi setiap tahunnya. Saya memberikan sekitar 0.4 mg/kg (dexamethasone) dan beberapa kolega saya juga melakukan hal yang sama, namun saya tidak menemukan perdarahan tersebut,” kata Dr. Ramzi Younis, Kepala pediatric otolaryngology di University of Miami School of Medicine. Dr. Dean Kurth, Direktur anestesi di Cincinnati Children’s Hospital mengatakan bahwa hasil tersebut terlalu prematur untuk dapat mengubah praktik mereka, seraya menambahkan bahwa praktik pengobatan berbeda antara Eropa dan Amerika.
Latar belakang studi memaparkan, bahwa hampir 190 ribu tonsilektomi dilakukan pada anak-anak di Amerika setiap tahunnya. Mereka umumnya mengalami postoperative nausea and vomiting (PONV) di samping rasa nyeri dan perdarahan setelah dilakukannya prosedur tesebut, yang kerap terjadi pada pasien yang tidak menjalani perawatan di rumah sakit. Non-steroidal anti-inflammatory drugs (NSAIDS) telah digunakan untuk meringankan nyeri, namun meningkatkan perdarahan. Dexamethasone, digunakan sebagai standar terapi di beberapa institusi.
Pada penelitian tersebut, sebanyak 215 anak-anak yang menjalani tonsilektomi di rumah sakit pendidikan di Swiss secara acak menerima dexamethasone sebesar 0,05 mg/kg, 0,15 mg/kg, 0,5 mg/kg, atau placebo. Mereka juga diberikan acetaminophen-codeine dan ibuprofen (sebuah NSAID) untuk menghilangkan nyeri setelah operasi, dan diamati selama 10 hari. Hasilnya, semakin tinggi dosis dexamethasone, semakin sedikit nausea dan vomit yang dialami pasien. Anak-anak yang menerima steroid juga lebih sedikit membutuhkan ibuprofen.
Setelah 24 jam, 44 persen mereka yang mengonsumsi placebo mengalami nausea dan vomiting postoperative, dibandingkan dengan 38 persen mereka yang menerima 0,05 mg dexamethasone, 24 persen yang menerima 0,15 mg dan 12 persen yang menerima 0,5 mg per kg berat badan. Namun sebanyak 4 persen anak-anak pada kelompok placebo dan 0,15 mg/kg dexamethasone mengalami perdarahan postoperative, dibandingkan dengan 11 persen mereka yang menerima dosis terendah dan 24 persen yang menerima dosis tertinggi. Setengah dari mereka yang mengalami perdarahan malah membutuhkan tindakan operasi lebih lanjut.
Angka perdarahan 4 persen mirip dengan di Amerika, ujar Kurth dan sekitar 10 persen kasus tersebut memerlukan operasi lanjutan. Juga, kata Younis, berbeda dengan peneliti Eropa pada penelitian ini, dia dan koleganya menasehati orang tua di Amerika agar tidak memberikan NSAIDs pada pasien, karena dapat menyebabkan perdarahan.
Satu yang masih menjadi teka-teki adalah temuan bahwa dosis dexamethasone yang lebih rendah dan lebih tinggi memiliki efek perdarahan yang lebih besar dibanding dosis sedang. Hipotesa yang dikeluarkan tim Tramer adalah risiko perdarahan dengan pemberian dexamethasone terkait dengan gangguan penyembuhan luka. Menurut Tramer, terdapat basis biologi untuk mendukung hal tersebut. Namun, Kurth berpendapat, hingga berbagai pertanyaan dapat terjawab dalam studi selanjutnya, jika ia adalah orang tua pasien, ia akan mencari tahu berapa tingkat perdarahan di institusi kesehatan yang akan melakukan terapi tersebut.
Seperti tercetak di Majalah Farmacia Edisi Januari 2009 , Halaman: 12
No Comments »
|