Kadar kolesterol yang tinggi dalam tubuh selain menyebabkan penyakit jantung ternyata juga dapat meningkatkan risiko terserang penyakit parkinson. Demikian hasil penelitian Dr Gang Hu dan kolega dari National Public Health Institute, Helsinki, Finlandia.
Mereka meneliti 24.773 laki-laki dan 26.153 perempuan Finlandia berusia 25-74 tahun. Mereka dikelompokkan sesuai dengan tingkat kolesterol yang ada dalam tubuh masing-masing.
Hu dan timnya mengamati perkembangan sukarelawan tersebut terus-menerus selama 18 tahun. Dalam kurun waktu tersebut, 321 laki-laki dan 304 perempuan berpotensi tinggi terkena parkinson. Mereka berasal dari kelompok yang memiliki kadar kolesterol tinggi.
Jika dibandingkan dengan kelompok yang berkadar kolesterol rendah, kelompok berkolesterol tinggi 86% lebih berisiko terkena parkinson.
Menurut Hu, peningkatan risiko terkena parkinson hanya berlaku pada sukarelawan berusia 25-54 tahun. Tidak ada peningkatan risiko pada sukarelawan berusia 55 tahun ke atas.
(*/Reuters/X-5)
http://www.litbang.depkes.go.id/aktual/kliping/parkinson190608.htm
No Comments »
Nyeri punggung bawah (LBP) merupakan masalah kesehatan yang ditemukan dimana-mana. Di Amerika Serikat sendiri, LBP merupakan masalah kesehatan no 5 yang menjadi alasan kunjungan pasien ke dokter. Terapi dengan menggunakan obat-obatan merupakan penanganan yang paling sering direkomendasikan untuk LBP.

Obat-obatan yang sering diresepkan oleh dokter untuk menangani LBP adalah antiinflamasi non steroid (AINS), muscle relaxant, dan analgesik opioid. Obat-obatan yang dijual bebas (OTC) seperti asetaminofen, aspirin, dan beberapa AINS juga sering digunakan oleh pasien sendiri untuk mengatasi LBP.
Beberapa review mengenai obat-obatan yang sering digunakan dalam penanganan LBP telah dilakukan terutama mengenai efektivitas AINS dan AINS mana yang paling efektif dalam penanganan LBP.
Berikut ini kami sampaikan kesimpulan dari beberapa review yang telah dilakukan mengenai efikasi AINS dalam penanganan LBP.
Review yang dilakukan oleh Roelofs dkk. dengan menggunakan sumber data dari MEDLINE, EMBASE, dan Cochrane. Berdasarkan 65 studi klinis yang di-review, dapat disimpulkan bahwa AINS efektif untuk penanganan simptomatik jangka pendek pada pasien dengan LBP akut dan kronik tanpa sciatica (nyeri yang menjalar di sepanjang tungkai atas hingga ke bawah lutut menurut distribusi nervus sciatic, dimana terdapat gangguan pada akar serabut saraf yang berhubungan dengan tekanan mekanik atau peradangan). Tidak ada AINS dari kelas tertentu yang lebih efektif dalam penanganan LBP. Inhibitor selektif COX-2 memperlihatkan efek samping yang lebih rendah dibandingkan dengan AINS konvensional pada studi secara acak yang termasuk dalam review ini. Namun, studi terbaru memperlihatkan bahwa inhibitor COX-2 berhubungan dengan peningkatan risiko kardiovaskular pada populasi pasien tertentu.
Review yang dilakukan oleh Koes dkk.. dengan menggunakan sumber data dari studi-studi klinis secara acak yang dipublikasikan. Berdasarkan 26 studi secara acak yang direview, dapat ditarik kesimpulan bahwa AINS dapat efektif untuk penanganan simptomatik jangka pendek pada pasien dengan LBP tanpa komplikasi, namun kurang efektif atau tidak efektif pada pasien LBP dengan sciatica dan pasien sciatica dengan gejala-gejala akibat gangguan pada akar serabut saraf.
Review yang dilakukan oleh Chou dan Huffman dengan menggunakan sumber data dari MEDLINE dan Cochrane. Dari review ini dapat ditarik kesimpulan : pengobatan dengan efektivitas jangka pendek yang baik dalam penanganan LBP adalah AINS, skeletal muscle relaxant (untuk LBP akut), dan antidepresan trisiklik (untuk LBP kronik). Dari bukti-bukti yang ada, tidak ada satu obat yang dapat memberikan keuntungan secara menyeluruh dalam penanganan LBP dikarenakan adanya hubungan yang kompleks antara keuntungan dan kerugian dari masing-masing jenis obat. Masing-masing pasien memiliki perbedaan dalam hal keuntungan dan kerugian dari setiap obat-obatan yang digunakan
http://www.kalbefarma.com/?mn=news&tipe=detail&detail=19689
No Comments »
Baru-baru ini kita dikejutkan oleh berita bahwa susu di RRC mengakibatkan ribuan bayi mengalami kerusakan ginjal dan 4 diantaranya meninggal. Setelah diselidiki ternyata akar penyebab kejadian ini adalah adanya kandungan melamin di dalam produk usus di RRC. Yang menjadi pertanyaan adalah, apakah melamin itu, mengapa berbahaya? Dan mengapa banyak perusahaan susu memasukan zat ini ke dalam produk mereka? (terdeteksi 28 produk di RRC menggunakan melamin dalam produknya) Informasi yang akan saya sampaikan berikut berusaha sedikit menerangkan dan menjawab mengenai isu ini.
Melamin adalah suatu zat organik dengan struktur kimia C3H6N6 atau dengan nama is 1,3,5-triazine-2,4,6-triamine. Berat molekulnya adalah 126, bentuk kristal putih dan agak sulit terlarut dalam air. Sebelumnya kita tahu bahwa melamin banyak digunakan pada produksi plastik seperti untuk pembuatan alat makan, biasanya untuk ini digunakan melamin resin (kombinasi melamin dan formaldehid)
Melamin memiliki kandungan nitrogen yang tinggi (66%) sehingga melamin ini jika dianalisa memiliki karakteristik seperti layaknya molekul protein. Melamin berbahaya jika tertelan, terhirup atau terserap kulit, paparan secara kronik dikatakan dapat mencetuskan terjadinya kanker dan kerusakan sistem reproduksi. Meskipun demikian, dosis toksik dari melamin ini cukup tinggi setara dengan dosis toksik suatu garam dapur dengan LD50 (Letal Dose50) lebih dari 3 gram/kg berat badan. Jadi kalau melamin memiliki nilai toksisitas yang rendah, mengapa dapat mengakibatkan ribuan bayi bermasalah karena zat ini? Jenis melamin yang digunakan dalam produk susu adalah melamin sianurat (kombinasi melamin dan asam sianurat) yang bersifat tidak larut dalam air, paparan kronik (setidaknya 3 bulan) dari melamin ini dapat mengakibatkan pembentukan batu pada kandung kemih dan ginjal (karena sulit larut air sehingga tidak dapat dikeluarkan via urin, selanjutnya tertumpuk dan mengkristal), bahkan kanker yang dapat menjadi penyebab kerusakan dari fungsi saluran kemih, hingga gagal ginjal.
Lalu mengapa harus menambahkan melamin ke dalam kandungan susu? Seperti telah disebutkan di atas bahwa melamin mengandung kandungan nitrogen yang tinggi dan memiliki karakteristik protein. Penambahan melamin ditujukan untuk meningkatkan kadar protein susu sehingga seolah-olah pada saat diperiksa kadar proteinnya menjadi tinggi (untuk memeriksa kandungan protein dari suatu zat yang diukur adalah kandungan nitrogennya). Regulasi pemeriksaan formula susu sebelumnya tidak menduga bahwa akan adanya penambahan melamin ini, sehingga kandungan melamin tidak diperiksa. Meningkatkan kandungan protein tanpa perlu memperbesar kandungan protein yang ”sesungguhnya” akan menekan biaya pembuatan formula susu, dan meningkatkan profit dari penjualan susu.
http://www.kalbefarma.com/?mn=news&tipe=detail&detail=19788
No Comments »