hit counters
hit counter

memang kebanyakan profesor punya banyak sikap unik,tapi keunikan profesor yg satu ini lumayan bisa dijadikan masukan fren!

Dokter yang Tak Hanya Menulis Resep

Wajah Profesor Dr dr Daldiyono Harjodisastro SpPD KGEH tampak sumringah
pada Kamis (15/6)
menjelang siang di ruang kuliah Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI).
Pada hari itu, pria kelahiran Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), tepatnya
tidak jauh dari lereng Merapi itu,
meluncurkan buku pertamanya berjudul Bagaimana Dokter Berpikir dan
Bekerja, yang diterbitkan PT Gramedia Pustaka Utama.

Ingin bahagia. Itulah obsesi Daldiyono. Untuk meraih itu, dia pun tidak
mau “diperbudak” pekerjaan,
karena di antara kesibukannya mengobati pasien-pasien, Daldiyono memberi
porsi untuk membaca, menulis buku,
dan bermain drama. Tentu, kebahagiaan itu bukan hanya untuk dirinya
sendiri, tetapi juga untuk orang lain.
Menurutnya, seorang dokter haruslah bekerja berdasarkan esensi etika,
yaitu kasih sayang dan akhlak mulia.
Karena, profesi dokter, amal dan saleh. Dokter adalah pelayan bagi
pasien, sehingga ketika bekerja seorang dokter hendaknya mengaplikasikan
prinsip etika.

Membatasi Pasien Mungkin tidak banyak dokter yang masih menyempatkan
diri menulis buku atau novel di
antara kesibukan sebagai dokter. Sudah menjadi pandangan umum di kota
besar, dokter yang telah meraih gelar
profesor memiliki banyak pasien. Jadi, tidak mengherankan seorang
profesor berpraktik sampai dini hari.
Namun, bagi Daldiyono, waktu sepanjang 24 jam tidaklah dihabiskan dengan
mengurus pasien saja.

“Saya selalu membatasi jumlah pasien. Sehari cukup 20 pasien. Bila saya
memiliki 100 pasien sehari tetapi
melayani 20 pasien saja, maka teman sejawat saya yang lain bisa kebagian
pasien. Selain itu, saya memiliki
cukup waktu memeriksa setiap pasien saya. Butuh waktu setengah jam untuk
memeriksa seorang pasien,” ujarnya.
Menuangkan ide dalam tulisan sudah dilakukannya saat mahasiswa di FKUI,
sebagai wartawan pada majalah kedokteran
tahun 1962-1966. Untuk dapat menulis, menurutnya, harus ada niat.
Melalui tulisan, Daldiyono pun menuangkan aspirasi
dan ilmu dengan harapan orang lain mengetahui pemikirannya. Selain itu,
orang yang membaca juga memperoleh manfaat.

Prinsipnya, melalui tulisan seseorang tidak hanya memikirkan diri
sendiri, tetapi juga orang lain.
Sama dengan wartawan, menulis untuk kepentingan masyarakat. Terhadap apa
yang diperoleh dan dijalaninya selama ini,
dia bersyukur kepada Tuhan. Dia mengaku bukanlah orang yang memiliki
uang, sehingga akhir pekan Sabtu dan Minggu dihabiskannya di rumah
dengan menulis. Hari libur pun diisi dengan menulis dan membaca.
Bahkan, saat menunggu keberangkatan pesawat di bandara, Daldiyono juga
menulis. Beberapa karya tulisnya
yang akan diluncurkan adalah “Pasien Pintar dan Dokter Bijak”, “Menjaga
Kesehatan Mencegah Penyakit Berkembang”.

Dengan diluncurkan buku Bagaimana Dokter Berpikir dan Bekerja diharapkan
dokter Indonesia menjadi tuan di negeri sendiri. Menurut Daldiyono, yang
meraih gelar doktor ilmu kedokteran pada 1995 dengan disertasi berjudul
Tukak Stres pada
Penderita Stroke itu, masih ada kekhawatiran masyarakat terhadap dokter.
Terbukti sebagian masyarakat masih berobat
ke luar negeri. “Tidak mungkin orang berobat ke luar negeri kalau dokter
di sini sudah bagus. Kita harus jujur,
kita kurang bagus. Kekurangannya terletak pada komunikasi pada hubungan
dokter dan pasien,” tuturnya.

Membuka Diri Dokter, katanya, harus membuka diri dan pasien diberi
kebebasan (otonomi), misalnya dalam mengambil
keputusan untuk dirinya sendiri. Bukan dokter yang mengambil keputusan
untuk seorang pasien. Justru, katanya,
di dalam undang-undang praktik kedokteran dianjurkan masyarakat mencari
pendapat (second opinion) dari dokter lain.
Di sisi lain, pasien masih berharap berlebihan terhadap dokter.
Misalnya, semua pasien harus sembuh.
Daldiyono yang memperoleh gelar profesor tahun 1997, berpendapat agar
seorang dokter benar-benar menjadi dokter,
harus memiliki keterampilan klinik, keterampilan berpikir, bekerja
dengan benar, dan bisa berkomunikasi secara baik
dengan pa- sien. Di FKUI , komunikasi interpersonal diajarkan sejak
1986. Selain itu, dia mengingatkan profesi
dokter bukanlah suatu cara untuk menjadi kaya. Anggapan di masyarakat
profesi dokter adalah lahan subur untuk
menumpuk kekayaan adalah pemahaman yang salah. Bila seseorang
mengharapkan kaya dari profesi dokter, maka dokter
itu pada akhirnya akan bosan.

“Dokter itu mudah sekali menjadi kaya kalau dokter jelek. Dokter jelek
itu menipu pasien.
Misalnya mengatakan ‘Anda sakit ini, mestinya begini…begitu…’ kepada
pasien. Padahal tidak benar.
Jadilah seorang dokter yang baik dan membahagiakan pasien. Kalau mau
jadi dokter jangan ingin kaya, tetapi cukup,” sarannya. [Pembaruan/Nancy
Nainggolan]

Leave a Reply